Kita Generasi APATIS !!!

#STOP-APATIS
#STOP-APATIS

Gue ga tahu Indonesia udah jadi apa 1 tahun belakangan ini. Kebetulan yang menyenangkan, TV di rumah sempat rusak, dan gue tinggal sendirian di kota ke-dua terbesar di Indonesia ini (anak rantau). Ada dua hal sebenernya yang bikin gue ga mau benerin TV :

1.Gue ga suka nonton TV.

2. Bikin tagihan listrik melonjak. ( Maklum anak rantau harus hemat).

Kira-kira seminggu yang lalu gue nyalain TV, iseng mo ngecek sebelum diperbaiki.  Tapi, itu TV ternyata bisa memperbaiki dirinya sendiri. Jadi ga usah di service. Setahun ga dinyalain karena rusak. Atau  mungkin TVnya lelah karena keseringan di pake nonton sinetron sama papi mami pas lagi jenguk gue di sini. Alhasil seharian gue nyalain TV. Semua stasiun TV yang ada program beritanya gue tonton. Dan gue langsung “SAKIT KEPALA  SEKETIKA, DI SERTAI MUAL DAN HAMPIR KEJANG-KEJANG DI TEMPAT”. Tahu kenapa? Gue langsung OVERDOSIS BERITA. Yakali berita baik, Rupiah menguat, Ahok dan DPRD bikin hajatan terus selfie bareng, atau KPK yang berhasil tangkap basah tikus-tikus yang lagi manggul duit di got-got terdekat  perumahan warga. Tapi, semua terbalik dari angan-angan gue yang liar ini. Dan … “Sakitnya tuh disini nih, *pegang pala”.

Pasti pada mikir, gue anak Hukum, tapi ga pernah nonton TV !… lah, tahu perkembangan Hukum di Indonesia gimana caranya ? pasti ga tahu apa-apa .. #cie. Yah gue ga sekosong itu juga, kan ada gadget ama laptop, ada Youtube juga. Gue jarang beli koran. Kalo halaman depan redaksionalnya menarik gue beli. Abis itu artikel dibelakang-belakangnya kadang-kadang aja gue bacanya. Ada dua sisi dengan cara gue mengunyah berita. Karena gue terlanjur menjadi bagian dari generasi masa bodoh ama berita, gue akan memilih berita mana saja yang gue mau makan dan kunyah (Apalagi terkait tugas kuliah terpaksa cari tahu). Ga bisa nyalahin kita (*mewakili manusia sejenis gue) juga sih, karena orang semacam gue cukup #Muak dengan hidup ini. #Eh maksudnya sama pemberitaan media yang kadang melebih-lebihkan sesuatu atau juga orang-orang kurang perhatian yang membesar-besarkan suatu perkara. Terus setiap hari kita dicekokin berita yang itu-itu aja. Apalagi tingkah laku blagu dan sok para pejabat( Sebagian *mungkin. Sebagian besar maksudnya) bikin kasus sana sini perihal ini itu. Udah kek anak abegeh kurang perhatian orang tua aja, terus bikin banyak masalah di sekolahan. Ya kurang lebih, sama kek mereka yang kurang perhatian sampai-sampai hebohin se bangsa dan se negara. Demi mendapat perhatian.

Ya.. kalo di baca gue emang menjurus pada sikap  #APATIS : apa-tis gaulnya #Apasih ? (ngarang). Apatis artinya ( a ) acuh tak acuh; tidak peduli; masa bodoh (KBBI). Gue sempat ngobrol sama partner debat gue di perpus kampus baru-baru ini:

Gue : Eh, gimana menurutmu soal beritanya AHOK Vs DPRD? ..

Temen Gue : … ehmm ” sembari terus membaca”

Gue :  Ia, tuh lagi seru tahu!… Terus soal KPK juga tuh, aduh emang nih negara mo jadi apa coba?! ( Gue mulai ngoceh sendiri kek orang kurang perhatian karena berasa di kacangin dan biar ga terlihat bodoh sama kiri kanan gue dan gue ga bisa menahan rasa ingin curhat soal berita-berita yang gue lahap abis dan jadinya kekenyangan makan berita, dari hasil nonton TV itu)

Temen Gue : *masih sok cool… “Aduh, gue malah ga tahu apa-apa !!

Gue : What ! Langsung sedikit bego liatin temen gue yang ternyata lebih parah dari gue..kenapa ? kok bisa? ga update lu? Lu kan biasanya mr. ter-uptodate

Temen Gue : Belakangan ini gue capek jo nonton berita, udah deh gue males, gue udah ga mau tahu lagi.

Gue : Waduh, mentang-mentang mau jadi notaris jadinya sok kalem ama berita ya lu ! *mulai ngesok, padahal gue setahun lalu juga sempet kek dia.

Lantas, gue mikir, gue sadar. Bahwa, generasi gue ini ga bisa di salahin karena lebih tertarik nonton GGS genteng-genteng sering bocor, *Maaf Ganteng-ganteng serigala, Mahabaratha dan sejenisnya. Gue tahu judulnya dari artikel online dan perbincangan sekilas temen-temen cewek gue ampe tante-tante yang sering gue cuekin karena ga tahu apa yang mereka bicarakan. Generasi gue jadi apatis, karena kami sudah lelah dengan semua ini *mulai drama. Ya, intinya kami akan menjadi konsumen atas berita yang kami ingin tahu *saja. Kalau TV, Koran dan Radio beritanya sudah tersusun dan terprogram rapih untuk tayang atau di siarkan atau di cetak. Tapi, artikel online kan terserah si pembaca. Karena kesadaran gue ini, gue mulai rajin nonton TV yang berakhir pada nyasar di Jodha Akhbar #AmpuniGuePelis. Terus gue mutusin untuk disiplin beli koran seminggu dua-tiga kali ajalah cukup. Kadang rasa mual gue harus gue tahan demi pengetahuan akan negeri tercinta ini. Kalau penerusnya aja masa bodoh, dan lebih update film-film di bioskop dari pada pemberitaan politik, hukum dan ekonomi. Bagaimana bisa negara ini di percayakan kepada kami sebagai penerus???.

Apatis hanya akan membuat pikiran kita buntu, lantas  mengomel dan mengumpat pemerintah tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang sebenarnya bisa kita lakukan. Apatis ga akan pernah memberikan solusi. Apatis jika di biarkan akan menciptakan generasi acuh tak acuh dan masa bodoh. Maka negara ini akan kehilangan penerusnya yang benar-benar mengerti seluk beluk pemerintahan, sosial budaya dan ekonomi negaranya, sudah begitu mau jadi apa negara ini, dan mau jadi apa kita-kita ini? Apa yang bisa diharapkan dari generasi apatis? Belum terlambat, masih ada esok hari untuk berbenah demi Indonesia tercinta ini 🙂 *lagibener …….

#STOPAPATIS,-!!

Jadilah Humanis *Human Manis yang artinya manusia manis. *ngawur

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. yogisaputro says:

    Menurutku ada beda antara ‘membatasi informasi masuk’ dan ‘apatis’. Di zaman ini udah ga mungkin orang disuruh serba update saking banyaknya informasi tersebar. Di sisi lain, nggak ikutin berita juga belum tentu apatis.
    Kalau bagiku, masalah Ahok dan DPRD itu di luar jangkauan. Mau ngapain juga kayanya berpengaruh minimal ke masalah. Yang lebih penting itu apapun dalam jangkauan. Teman, keluarga, lingkungan. Kalau nggak peduli sama isu padahal dalam jangkauan, itu baru namanya apatis.

    Itu pendapatku aja. Bahasannya menarik 🙂

    1. joeurnaly says:

      Ok. mari berdiskusi: Menurutku apatis itu yang membuat kita jadi males tahu soal isu/berita. Contohnya berita2 yg timbul karena ulah pejabat. kek DPRD VS Ahok itu. Meski awalnya memang memperjuangkan uang rakyat. tapi makin kesini bahasanya malah subjektif. Mendramatisir berita sampai2 inti awal munculnya berita itu hilang. Lama2 masyarakat yg exited ngikutin berita udh capek di tengah jalan karena ‘ruwet’ benang kusut. Untuk mslh2 Dalam jangkauan seperti keluarga dan org2 terdekat itu sudah wajib sih untk kita tahu dan care. kalo di cuekin pun ada alasan sama kek negara. ya menurutku negara kumpulan dari keluarga2 juga. kalo kita ta mau tahu soal negara ini sama aja kita cuek atau apatis sama masa depan kita sendiri. itu sih menurutku hehe.

      1. yogisaputro says:

        Sebagai sama2 orang muda, aku juga setuju kalo kita harus ngerti soal isu dan berita. Terus karena bahasan makin lama malah ribet itu kan bikin frustrasi. Terus udah frustrasi ujungnya jadi ga peduli: apatis, masabodo.

        Nah itu kasus yg bisa terjadi. Segenerasi kita, menurutku banyak yg peduli cuma berakhir kecewa, seperti yang kamu bilang di blog. Mindset orang muda. Masih berapi2. Nah, biar ga kecewa, aku ngajuin kalau kepedulian itu mulai dari yg dekat. Biar sama2 yakin masih ada harapan buat Indonesia. Keruwetan isu besar nggak bisa dihadapi langsung.

  2. joeurnaly says:

    yup… itu dia yang aku maksud di tulisanku ini. Kita mesti belajar dari lingkungan terdekat yang bisa kita jangkau. kek lingkungan sekolah atau kampus, latihan dulu disitu kalo Tuhan Berkehendak kita duduk di pemerintahan kan bisa di aplikasikan, meski dah lingkup yang lebih besar. aku inget kasus DPR tahun lalu yang sidang itu “lupa spesifiknya masalah apa” cuman keliatan sih mereka yang latar belakangnya dari organisasi kampus atau aktivis gitu sama yang bener2 ga ada pengalaman sama sekali. itu sempet jadi komentar pembaca berita juga kalo ga salah metro Tv. Btw, kamu kuliah jurusan apa ya ?

    1. yogisaputro says:

      Ah, maaf baru lihat. Nggak muncul di notifikasi.
      Aku jurusan sistem dan teknologi informasi, ITB.

  3. joeurnaly says:

    Maaf juga baru ku balas, nice to know you yah !! 🙂 semoga bisa diskusi lebih banyak lagi,..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s