Merantaulah

Ternyata aku sadar sekarang. Aku tidak memilliki banyak teman di kampung halaman sendiri. Merantaulah yang membuat aku membuka diri, belajar banyak hal untuk keluar dari zona nyaman seorang INTJ (Introvert). Tidak mudah percaya orang, tidak suka banyak orang disekitarku untuk sekedar berbagi soal hidupku. Aku mempercayai bahwa sahabat hanya 1 atau 2 orang bukan se-geng atau se-group. Inilah yang membuatku sulit bergaul, hanya mengobrol atau sering jalan bareng tidak lantas membuat mereka menjadi teman dekat atau sahabat. Semua berubah ketika aku merantau, rasa membutuhkan banyak orang disekelilingku untuk memberi dukungan, arahan, maupun kritikan, serta mengasihiku dengan tulus, membuatku berani untuk membuka diri, bergaul dan terpaksa belajar memperhatikan orang lain. Kecuekan yang aku miliki membuat orang menilai aku orang yang dingin, atau tak berhati. Hanya saja mereka tidak tahu aku tidak ekspresif dalam menyampaikan rasa sayang. Aku tidak percaya pada perkataan, bertindak pun masih akan ku pertanyakan. Itulah prinsipku. Merantaulah, sampai semua karakter yang membuatmu sulit bergaul harus kamu lepaskan agar kamu dapat bertahan di tanah rantau. Banyak hal yang kudapat, pelajaran hidup yang tidak semua orang dapati. Kekeluargaan yang erat bukan tergantung pada se-darah, se-marga, se-daerah. Tapi se-visi, se-misi, se-hati. Komunitas ! disanalah tempat belajar, berpraktek dan memiliki keluarga. Banyak komunitas yang aku ikuti selama kuliah, dari komunitas universitas, fakultas, Gereja dan sosial. Banyak orang yang kutemui, banyak karakter yang kuhadapi. Dan yang pasti banyak masalah yang harus diselesaikan. Semuanya dapat aku jalani karena aku mau berubah, dan mengenal satu demi satu orang-orang dalam komunitasku. Bukan bertahan dengan karakter asli yang sudah tertanam sejak kecil. Karena itu hanya akan menjadi hambatan bagi diri sendiri. Memang sulit, namun bisa di taklukan, asal mau. Kita tidak bisa memaksakan orang mengerti karakter kita, kitalah yang harus mengalah agar kita dapat berkomunitas dan bergaul. Merantaulah, untuk belajar mengatur diri sendiri, mengenal diri sendiri dengan berusaha menemukan jati diri. Serta menentukan seberapa dewasanya kita dalam memilih pergaulan dan lingkungan dimana kita bertumbuh. Merantaulah supaya timbul keberanian dalam diri dan tekad yang kuat untuk melanjutkan hidup sebagai manusia dewasa. Merantaulah agar mental kita terlatih untuk menjadi orang-orang yang tidak mudah putus asa dalam menghadapi kegagalan apapun dalam hidup. Merantaulah dan timbunlah ilmu sebanyak mungkin untuk modal di masa depan. Merantaulah untuk belajar berbagi, berbagi segala hal kepada orang-orang yang ada disekitarmu, orang-orang yang selalu menopang kita dan menjadi keluarga kedua ditanah rantau. Merantau karena hanya dengan demikian kita tahu rasa rindu dan bangga memiliki kampung halaman yang kaya dan indah. Kita tahu betapa berharganya moment bersama keluarga dan betapa berharganya rumah beserta isinya sesederhana apapun itu. Perjalanan di tanah rantau merupakan perjalanan bersama Tuhan untuk menyaksikan mujizat demi mujizat, penyertaanNya dari satu masa ke masa yang lain. BerkatNya yang selalu memenuhi kebutuhan tanpa dibiarkanNya sedetik pun berkekurangan.

Terima kasih Ayah Ibu atas keberanian kalian berdua untuk melepasku merantau, karena merantaulah yang memanusiakan aku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s