S A Y A- iNTRovert

Sejak kecil saya lebih suka berteman dengan diri sendiri. Ekspektasi saya akan persahabatan selayaknya ‘seorang sahabat yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya, ya Yesus Kristuslah sahabat sejati saya’. Sulit rasanya saya mempercayai orang lain selain diri saya sendiri. Apalagi geng atau komunitas, tabu bagi jiwa saya yang terkunci rapat. Untunglah saya beranjak dewasa lantas merantau, di awal semester sulit bagi saya untuk beramai-ramai dan mengobrol terbahak-bahak. Kurang pas bagi jiwa saya yang tertutup bagi dunia luar. Lantas saya di ‘paksakan dosen’ untuk bergabung dengan komunitas, entah saya yang terlalu keras atau saya memang ditakdirkan berubah, sampai dosen pun turun tangan. Benar, saya berusaha keras mengerti orang lain, mengikuti komunitas demi komunitas, terutama yang religius, saya menemukan 4 orang yang sangat saya sayang sampai hari ini. Saudara bukan lagi sahabat. Mereka saya temukan di tumpukan organisasi mahasiswa kampus. Di masa SD saya pernah di bully karena pindah kota, bahasa daerah yang saya bawa dari kampung halaman ke kota baru, tidak mereka mengerti, lantas saya bisa berbahasa mereka, saya diterima. Ada 2 orang. Yang setiap pulang sekolah saya ajak main. Ada 1 orang yang selalu saya ajak ke pantai hingga sore hari. Pulau DEWATA. Telah membesarkan saya dengan pemikiran terbuka. Seterbuka budaya mereka yang dicintai wong londo. Ada 1 lagi anak guru yang selalu saya ajak main dirumahnya. Dia sakit-sakitan tidak kuat kalau saya ajak ke pantai. Zaman SD saya ada team bully terdiri dari 2 orang anak lelaki dan 1 orang anak perempuan. Pindah lagi saya ke kota lain. Saya temukan diri saya di bully lagi karena bahasa saya yang sangat asing bagi mereka. Akhirnya saya belajar bahasa mereka yang adalah bahasa kampung halaman saya sendiri. Mereka menerima saya. Saya punya 3 teman, anak perempuan.  Setiap pulang sekolah bermain bersama dirumah mereka. Ketika SMA bertemu mereka lagi namun dengan kepribadian yang berbeda. 1 lagi orang sederhana dan baik, selalu menunggu saya di depan kelas. Dan akan berteriak heboh ketika saya masuk kelas. 1 anak laki-laki yang selalu mengganggu saya tapi karena dia lucu, bagi saya tidak mengapa. Saya selalu berdiri sendiri di depan kelas. Tanpa teman. Hanya suara samar yang mengejek bahasa DEWATA saya. Zaman SMP. Teman saya 4, anak perempuan. Lantas sisanya, semua anak lelaki. Menyenangkan. Liar. Nakal. Tapi saya tidak perduli.  1 teman, anak perempuan terus bersama saya hingga kami lulus SMA. Dia yang saya anggap sahabat pertama saya. Lantas ketika saya merantau. Persahabatan kami mulai memudar. Karena komunikasi yang jarang. Tapi saya anggap dia saudari saya. Pertama kalinya orang sedingin saya dan secuek saya. Belajar menjaga saudari saya. Saya tidak punya adik atau saudari. Saya punya 3 saudara. Dalam persahabatan ini saya belajar mengungkapkan rasa kasih saya kepada orang lain lewat kata dan surat.  Zaman SMA, saya punya 4 teman, perempuan. Tapi serasa bukan bagian dari mereka. Kadang saya merasa tidak dianggap. Saya semakin dingin semakin aneh bagi dunia luar. Saya rasa sahabat pertama saya itu menemukan yang lain. Kami hanya sering pulang bersama karena sejalan. Kami ngekos bersama karena rumah kami jauh dari sekolah unggulan itu. Lantas kelas selanjutnya kami tidak terlalu dekat karena tak lagi ngekos bersama. Dikelas saya suka duduk di depan ketika pelajaran kesukaan saya. Paling pojok. Seorang diri. Tas saya letakan di atas bangku sebelah saya. Lalu saya makan di menit terakhir sebelum bel berbunyi. Saya lapar, saya bawa bekal, dan saya tidak perduli. Ketika kelas yang saya tidak sukai. Saya duduk paling belakang. Pojok. Sendiri. Kalau tidak mengerti. Saya tarik meja dan kursi sampai di depan papan. Saya merasa itu tidak aneh. Saya sadar sekarang itu aneh. Tapi saya ternyata cuman mau diperhatikan guru. Tanpa saya bertanya atau berucap saya tidak paham. Saya malas berinteraksi dengan orang. Malas sekali berbicara. Sesekali saja cerewet, di saat yang penting bagi saya atau lagi capek diam. Laptop selalu menemani, hingga jam istirahat, dan ketika nongkrong dengan beberapa teman, sampai-sampai mereka suka sekali mengeluh dan menyarankanku bergabung dengan mengobrol. Aku sedang bergabung dengan mereka hanya saja, aku mendengar dan mengerti. Mereka terkecoh dengan si laptop. Sisa teman saya semua lelaki. Kami suka bercanda dan mengobrol hal yang tidak seberat perkumpulan anak perempuan. Seperti membicarakan cinta dan nama beberapa orang yang mereka selidiki, entah untuk apa dan mengapa ? Itukah gosip?. Memang saya terbentuk dengan mindset kolot ala lelaki. Logika bukan perasaan. Sekarang ketika saya lulus dan bergelar. Saya berkomunitas di gereja. Disana Tuhan pun membentuk pribadi saya untuk berubah. Lebih memperhatikan orang dan lebih cerewet. Tapi kadang saya rasa ini bukan saya. Bukan karakter saya. Bukan diri saya. Hanya ada beberapa yang sangat dekat. Dan ada dalam hati. Mereka membuat saya sangat cerewet. Mencoba banyak hal yang bukan saya. Semacam curhat. Semacam ngobrol tanpa henti. Dan terbuka tentang apa yang saya sedang rasa dan ingin lakukan. Lalu saya jenuh. Saya lelah. Saya rasa diri saya tidak privat lagi. Dimiliki banyak orang. Diketahui banyak orang. Tidak lagilah. Hanya pada orang, waktu dan keadaan tertentu saya akan extrovert. Hanya karena Tuhan menguatkan saya dan mau saya berkisah supaya ada orang yang juga menjadi kuat. Ketika di komunitas gereja dan diluar bisa berbeda. Tanggung jawab dan tuntutan membuat saya harus menjadi Extrovert di dalam komunitas itu. Bukan munafik. Hanya introvert saja yang mengerti ini. Saya lebih nyaman sendiri dan diam bukan ramai dan mengobrol kecuali ada tujuan dan dengan mereka yang butuh di creweti.  Saya lebih suka berteman dengan buku. S A Y A.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s