Bersyukurlah

Masa muda masa penuh tantangan dan petualangan. Anak muda adalah orang-orang yang penuh gairah dan keberanian.

Namun bagi kami; sebenarnya masa muda adalah masa abu-abu, masa penuh pertimbangan. Masa penuh tanya dan kadang tanpa arah.

Dan kata orang tua kami; mereka tidak tahu banyak hal, belum berpengalaman, apalagi matang secara emosi, mereka butuh bimbingan tapi menolaknya, bukan tanpa arah namanya.

Bagi kami orang tua terlalu banyak mengatur dan tidak memberi kebebasan kami memilih.

Bagi orang tua kami; Orang tualah yang berhak dan tahu yang terbaik bagi anak-anaknya.

 

Lantas sekarang aku merenungkan pemikiran kedua belah pihak. Terkadang masih saja ada orang tua yang over protective sama anak-anaknya, hingga semua pilihan anak harus di putuskan orang tua. Seperti sekolah atau kuliah. Bagi orang tua, mereka tidak ingin anaknya menjadi pengangguran. Itu kenapa mereka memasukan sang anak ke jurusan yang menurut mereka menjanjikan lapangan pekerjaan. Atau ada tipe orang tua yang membalas dendam ketidakcapaiannya di masa lalu lewat anaknya. Memasukan sang anak ke jurusan impiannya. Tidak sedikit teman sebayaku yang hari ini kuliahnya malas-malasan, bahkan terbengkalai. Dengan alasan ” Ini bukan kemauanku, tapi orang tuaku, aku maunya masuk jurusan itu, maka jangan salahkan kenapa nilaiku selalu jelek”. Yah, sang anak membalas dendam dan memberontak lewat cara pembodohan diri. Kenapa?, karena yang namanya ilmu sama dengan makanan yang memberi asupan gizi dan kehidupan bagi kita. Betapa berharganya ilmu. Saya termasuk salah satu anak yang mengikuti kemauan orang tua. Kenapa? karena mereka yang membiayai saya, dan saya mau mereka senang. Di awal semester saya baik-baik saja, lantas saya mulai bingung dan jenuh. Kemudian nilai saya sempat anjlok karena saya malas-malasan. Namun ketika saya melihat perjuangan orang tua saya dan kakak saya. Rasanya tidak adil saya membalas dendam dan memberontak dengan cara yang membuat bodoh diri saya sendiri. Saya mulai mencari rasa cinta akan jurusan yang saya ambil. Saya berusaha menyukai apa yang saya pelajari di bangku kuliah. Selain melihat perjuangan orang tua, saya juga tersadar dengan lingkungan yang dimana banyak orang tidak dapat mencapai bangku perkuliahan. Untuk makan saja sangat susah, apalagi mendapat gelar sarjana. Banyak teman sebaya saya, yang berpotensi dan pintar tapi tidak dapat kesempatan yang sama dengan saya. Dari situlah timbul semangat dan tekad untuk menyelesaikan studi saya. Saya berhasil menemukan beberapa aspek yang menarik hati saya untuk saya pelajari lebih lagi dalam bidang hukum. Di hari pertama kelas Hak Asasi Manusia,  saya pun mulai tertarik dengan jurusan ini. Lantas semester berikutnya saya memasuki kelas Hukum Internasional, mata kuliah ini pun berhasil membuat saya jatuh hati pada jurusan yang orang tua saya pilih.  Akhirnya kolaborasi dua mata kuliah favorite saya ini menjadi pilihan saya dalam menyelesaikan tugas akhir kuliah. Saya berhasil lulus 3 tahun dan dengan hasil yang memuaskan ! (Cum Laude). Terkadang kita harus  pasrah ketika dijodohkan. Karena tidak semua perjodohan berakhir seperti Siti Nurbaya. Tergantung individu, kita mau belajar mencintai atau malah sebaliknya. Karena kitalah yang memilih masa depan kita sendiri. Tidak selamanya orang tua. Pilihan orang tua pun tidak seterusnya menyiksa kita, tergantung bagaimana kita menyikapinya, dengan berontak atau bersyukur lantas mencoba menjalani. Ketika kita jalani pasti terbuka jalan buat kita mencintai sesuatu yang awalnya kita tidak sukai. Apapun bidang ilmunya, pasti bermanfaat. Tidak ada ilmu yang tidak bermanfaat. Selesaikan saja dulu step pertama dari pilihan orang tuamu, selanjutnya bicaralah dengan orang tuamu baik-baik tentang apa yang kamu sebenarnya ingini. Saya pun melakukannya, orang tua saya yang ketika itu sempat bertemu dengan kerabat kami yang bercerita bahwa anaknya gila karena dipaksa kuliah di jurusan yang mereka pilih, membuat orang tua saya sadar. Namun, saya tidak mau orang tua saya merasa bersalah. Saya malah ingin memberi tanda terima kasih dengan hasil yang baik.

Banyak teman saya yang notabennya dari keluarga mampu. Namun tidak memiliki rasa syukur, kebanyakan mau dan memilih. Kebanyakan melihat orang berhasil karena jurusan yang mereka pilih. Membuat mereka merasa seperti dijodohkan dengan pasangan yang mereka benci. Mereka memberontak, mereka jenuh, kecewa, malas-malasan. Pada akhirnya merekalah yang rugi. Padahal kalau toh mereka mampu. Seharusnya step selanjutnya mereka bisa memilih jurusan yang mereka inginkan. Setelah membuktikan kalau mereka bisa membuat orang tua mereka bangga dengan menyelesaikan jurusan itu sampai selesai. Tidak harus dengan nilai memuaskan. Jangan sampai, nasi yang dibutuhkan orang kelaparan kita buang dan injak-injak. Sedangkan ada banyak yang mencari dengan bercucuran air mata dan bahkan darah untuk mendapatkan sebulirnya saja. Pendidikan itu penting dan berharga seperti makanan. Jangan sia-siakan sedikit pun. Tidak ada kata terlambat untuk kita mencapai apa yang kita mau. Selama kita menjadi berkat bagi orang tua kita terlebih dulu. Tuhan pasti membuka jalan bagi cita-cita kita.

Gunakan energi masa muda untuk berani mencari jati diri, bertindak dan melangkah mencapai cita-cita, karena tidak sedikit orang tua yang menyesal dimasa muda mereka tidak menggunakan energi mereka untuk berjuang dan meraih cita-cita mereka. Intinya posisi dimana kita berada sekarang ini dan hidup yang kita jalani pasti lebih beruntung dari beberapa orang lain diluar sana. Maka jangan pernah sia-siakan. Do your best dan bersyukurlah!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s