Tuhan adalah GPS kita

Tuntunan Tuhan ibarat GPS. Sudah 5 tahun tinggal di kota ini, belum jua semua pelosok saya ketahui. Butuh GPS, butuh arahan, butuh bimbingan agar sampai di tujuan dengan selamat. Karena saya naik motor, maka saya pakai headset untuk mendengar arahan si GPS. Setiap jarak yang saya tempuh dan setiap jalan yang saya lalui serasa asing dan tanpa tahu ada dimana. Namun, ketika telinga di bisikan untuk belok kiri atau kanan. Hati yang cemas semakin memudar. Saya semakin percaya bahwa lokasi yang saya tuju akan segera saya temukan. Namun kala GPS mulai diam saja, tanpa ada arahan barang sekata. Saya pun mulai cemas lagi. Rasanya takut kalau-kalau saya tersesat. Kadang saya ambil jalan potong lewat gang kecil atau jalan lain, dan GPS saya akan mengikuti arah saya dan memberi arahan baru, tak disangkal kadang kala, malah semakin jauhh. Untungnya si GPS tidak marah-marah atau ‘mencreweti‘ saya. Dia diam saja dan mengikuti kemana saya mau pergi, lalu memberi arahan baru. Yang pasti adalah si GPS mau saya sampai di tujuan. Lewat arah mana pun, tapi saya yang rugi karena membuang banyak waktu di jalan.

 

Demikian kita dengan Tuhan, seringkali kita cemas dengan pilihan hidup, keputusan-keputusan yang sulit, peperangan antara hati dan logika, antara iman dan keinginan diri. Saya belajar bahwa, Tuhan punya banyak jalan untuk membawa kita kepada destinyNya dalam hidup kita. Kita dalam hal-hal tertentu di ijinkan memilih jalan mana yang kita mau pakai, dan salahnya dari kita ada mencoba berjalan dengan arahan sendiri dan tidak selalu taat arahanNya, hal ini merugikan dan membuat semakin lama menuju penggenapan janji Tuhan dalam hidup kita.

Saya belajar bahwa, sesekali Tuhan mengijinkan kita untuk tidak memilih salah satu jalan atau keputusan tapi hanya menjalani yang mana dari beberapa pilihan itu. Karena dari pilihan yang ada semuanya akan berhasil sampai tujuan. Terkadang kita terintimidasi dengan stigma salah satu saja yang dari Tuhan, maka pilihlah salah satu saja, kalau tidak maka akan gagal. Tidak … bukan, menurut saya sendiri, bisa saja semua berhasil, semua peluang di buka untuk sampai tujuan kita, tinggal bagaimana kita berusaha sendiri dengan menggunakan peluang yang Dia berikan.

Saya belajar bahwa, terkadang kita yang terlalu ragu dengan arahan Tuhan. Karena kita melihat kenyataan yang membingungkan dan mendesak untuk memilih. Tapi sebenarnya, kita hanya di suruh berjalan saja ikuti arahan yang di berikan di awal, seperti GPS yang biasanya mengingatkan 400 meter sebelum belok ke kiri atau ke kanan. Jangan lupa arahan yang dari awal itu dan jangan sampai ragu berbelok kalau sudah mencapai 400 meter. Karena kurang sedikit atau lebih sedikit saja dari arahan itu kita tetap saja akan salah arah dan mengulur banyak waktu Tuhan untuk menggenapi tujuannya dalam hidup kita. Misalnya; untuk kita mendapat pekerjaan atau universitas terbaik yang kita idam-idamkan. Keraguan hanya mengulur waktu kita. Stop ragu dan mulai percaya akan arahanNya. Terkadang kita rasa Tuhan diam saja atas pertanyaan kita tentang arah dan tujuan, padahal Dia sudah membimbing dan sedang membimbing tapi kita yang tidak peka, bahkan bisa saja sudah lupa arahanNya dari awal, atau kita yang tidak sabaran mendengar arahanNya, atau kita yang terlalu ragu dengan arahanNya.

Jangan takut, Dia setia dan takkan meninggalkan perbuatan tanganNya ! Dia akan membimbing Dia tidak pernah diam, jangan khawatir. 🙂

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s