Ternyata sesederhana ini

   Setelah beberapa bulan merantau ke negri asing ini membuatku sadar; bahwa ternyata iman itu sederhana, pelayanan itu sederhana, berteman pun dapat dengan siapa saja dalam bentuk yang sederhana. Sederhana yang aku maksud ialah tidak perlu menunggu waktu yang tepat hanya untuk bersaksi tentang iman yang aku miliki lewat pelayanan di gereja seperti yang dulu biasanya aku lakukan. Saat ini aku belajar menunjukan iman yang sebesar biji sesawi ini lewat bagaimana setiap harinya aku hidup dan di kelilingi orang-orang asing yang kemudian menjadi teman akrabku. Jika dulu buatku pelayanan baru akan terasa jika menjadi bagian dalam pelayanan gereja, misalnya menyanyi, berdoa atau entah apa pun itu nama pelayanannya. Rasanya itulah pelayanan yang sesungguhnya. Ketika kamu pernah menjadi bagian dari aktifitas non-stop bergereja seperti ini lantas sekarang hidup tanpa berbuat apa-apa sama sekali rasanya; ‘sunyi, lelah dan mati’. Itulah rasanya, seperti pengangguran yang tidak berguna. Suatu pagi ketika aku mendengar khotbah via Live-Streaming perkataan ini membangunkan rohku; “Kamu bisa melayani di mana saja, kamu bisa berdoa untuk siapa saja yang kamu temui. Mana ada orang yang menolak di doakan jika pun ia, tak mengapa wong kamu menawarkan kebaikan bukan agama untuk mereka peluk”. Yup,  berdoa untuk orang-orang di sekitarmu, siapa pun, sesederhana itu pelayanan! ..

   Awal kedatanganku, aku bertemu beberapa anak muda di gereja. Lantas kami menjadi teman baik hingga hari ini. Awalnya mereka mengajak bertemu untuk ngobrol dan masak-masak bareng, kemudian di setiap pertemuan selalu di tutup dengan doa bersama. Wah! bagi aku yang rajin melayani dan kumpul bareng temen-temen sepelayanan ini, rasanya kaget. Karena di gereja udah banyak jadwal doa bareng, lalu kalau waktunya hang out rasanya ga mungkin buat doa bareng lagi, apalagi mau bertanya masalah pribadi teman-teman (kecuali jika kamu memang melayani sebagai mentor atau sahabat dekat). Tapi disini, mereka mengajarkanku untuk perduli dengan cara sederhana. Setiap kali bertemu pasti mereka akan tanya kabarku; yah itu kan biasa !.. Ya itu biasa jika aku hanya menjawab; kabarku baik. Tapi sebaliknya ketika aku bertanya apa kabarmu? buat mereka itu pertanyaan yang akan mereka jawab secara rinci. Dengan senang hati mereka akan curhat tentang semua yang mereka lakukan dan masalah yang mereka hadapi,  bila perlu didetail per-hari dan jam. Selanjutnya mereka akan tanya lagi; apa yang akan aku lakukan selanjutnya atau apa rencanaku kedepan? . Disini mereka akan memasang telinga untuk mendengarkanku dan bereaksi sangat ekspresif ketika aku bercerita, entah itu hal yang menyenangkan atau menyedihkan. Disitu perasaan lega akan muncul. Rasanya ada yang perduli meski mungkin masukan yang mereka berikan ga banyak. Aku bisa jamin hampir semua dari mereka seperti ini. Orang bule yang terkesan dingin dan keras, ternyata mereka orang-orang yang sangat perduli. Budaya berteman mereka berbeda dari kebanyakan kita. Mereka akan berupaya untuk menjalin pertemanan dengan kalian hingga setiap akhir pekan buat mereka adalah waktu yang paling tidak mereka wajib sisakan untuk bertemu kamu. Notabenya aku orang asing dan masih harus belajar banyak bahasa mereka namun mereka sangat sangat sangat sabar dan berusaha mengerti setiap ceritaku. Disinilah aku sadar bahwa iman pun sesederhana berteman. Mereka tipe orang-orang yang sangat toleran. Mereka tidak akan punya waktu untuk bergosip tentang orang lain. Membawa nama orang lain dan cerita orang lain dalam percakapan itu hampir mustahil di dengar. Mereka akan sangat sibuk mengulas hidupmu dan ingin berbagi denganmu. Mereka pun sangat senang melontarkan pujian-pujian sederhana. Mereka akan berusaha membuatmu tidak merasa rendah diri. Aku sangat senang berada dalam kesederhanaan mereka. Budaya memeluk bagi mereka sangat biasa. Tapi bagi sebagian besar orang Indonesia. Jika kita bukan saudara atau teman dekat maka rasanya aneh jika berpelukan. Berpelukan adalah salam dari mereka sebelum mengobrol atau berpisah. Aku pernah dengar salah satu teman yang membahas soal ini. Dia bilang jika durasi dia memeluk seseorang tergantung dari seberapa dekat dia kenal dengan orang tersebut. Lantas hal ini di iyakan oleh semua yang duduk bersama kami. Ah, aku tahu sekarang. Mereka akan memelukmu semakin erat dan lama ketika mereka nyaman dan sudah mengenalmu bukan sekedar pelukan biasa lantas lepas begitu saja. Uniknya setiap janjian ketemuan dengan mereka akan sangat detail dan seru. Mereka pasti ajak makan dan masak bareng setelah itu sudah ada beberapa agenda yang mereka list untuk di lakukan bersama dalam beberapa jam itu. Kadang kami masak dan mengobrol lalu olah raga atau kadang kami jalan-jalan lalu makan snack di taman atau bikin prakarya trus tulis surat dan di kirim lewat pos ke teman-teman dekat yang lain. (seru kan! ^-^)

   Banyak hal lucu yang terjadi disini, ketika sesama pendatang menanyakan asalku dan ketika aku menjawab Indonesia, ada beberapa dari mereka  nyeletuk; ‘kok kamu ga pake Hijab?’. Indonesia memang terkenal sebagai negara mayoritas muslim. Lucunya lagi mereka bertanya bagaimana gereja disana? dan dengan senang hati aku akan menunjukan foto-foto kegiatan gerejaku di Indonesia. Itu semua membuat beberapa dari mereka kaget. Wah! ternyata kehidupan orang kristen di Indonesia seperti itu. Jika di bandingkan dengan disini yang punya banyak sekali gereja entah gedung dari zaman dahulu atau yang modern. Anggota gerejanya mayoritas adalah orang tua. Sayangnya anak muda sangat..sangat jarang bergereja. Aku bahkan berkeliling 6 gereja di satu kota untuk mencari rumah baru bagiku. Namun untuk kegiatan anak muda di gereja hampir tidak ada, jika pun ada baru akan di buka ibadah khusus anak muda. Ada komunitas internasional di salah satu gereja namun itu acara untuk ajang main games dan kumpul-kumpul. Kita dengar firman 15 menit lalu makan bersama. Masih di sebut komunitas belum bisa di bilang ibadah pemuda. Karena kontennya hanya untuk ngumpul-ngumpul bukan beribadah. Tapi karena acara yang ringan seperti ini, banyak orang non kristen yang ikut. Meski awalnya mereka hanya cari teman, lama-lama mereka pun mengenal Tuhan. Isue lain kenapa orang-orang tidak mau jadi anggota gereja adalah karena ada pajak gereja. Untuk hal ini aku masih tahu sedikit. Tapi kamu di wajibkan bayar pajak khususnya bagi yang Protestan dan Katolik. Jika di tanya peruntukan pajak sudah pasti untuk kegiatan gereja. Pikirku karena mungkin jumlah jemaat yang juga tidak seberapa dan untuk memenuhi kebutuhan  gereja serta para pelayan gereja, maka di wajibkan membayar pajak. Btw disini yang melayani kebanyakan orang-orang yang berkuliah di jurusan Teologi atau semacam guru (Pendagogik)  yang nanti akan bekerja di organisasi sosial salah satunya gereja. Jadi jika di bandingkan dengan di Indonesia yang siapa saja bisa melayani tentu beda jauh. Di Indonesia bahkan dalam satu ministry pemuda contohnya bahkan hanya ada 1 orang yang berkuliah di jurusan teologia atau biasa di sebut full timer. Sudah pasti untuk masalah ini panjang buat di jelasin ^-^ yang sudah paham puji Tuhan yah! hehe, jadi ga perlu di jelasin. Dari 6 gereja yang tadi aku bilang aku pernah datangi itu, semuanya berbeda aliran. Ada yang Protestan, Bapstis, Karismatik ada pula yang campuran Lutheran atau gereja negara entah gimana jelaskan istilah ini (Stadtkirche) atau yang non gereja negara *maafkan sulit jelasin karena sistem gerejanya juga udah beda. Banyak aliran gereja disini. Tapi yang protestan sudah pasti sama tata cara ibadahnya dengan yang di Indonesia. Karena bingung, ya sudah ku putuskan masuk gereja dekat rumah. Lucunya gereja ini sebelumnya jauh dari rumahku, hari pertama aku datangi mereka belum pindah. Minggu kedua mereka pindah 5 menit jalan kaki dari kosanku (intinya ga ada alasan ga gereja deh!). Gereja ini campuran Karismatik dan Protestan campur pula bahasanya Rusia dan Jerman. Jadi hari minggu pun otak tetap kerja keras buat memahami tiap kata (ngenes).

   Untuk tetap memberi makan kerohanianku disini, biasanya aku Live-Streaming ibadah di Indonesia baru aku ke gereja. Karena kadang makanannya beda. Aku sulit jelasinnya*. Intinya yang bisa aku gambarin kehidupan kekristenan disini semacam baru berdiri kembali. Untuk dunia teknik dan pendidikan bisa di bilang mereka jauh dari kita tapi untuk masalah yang satu ini aku bisa bilang Asia saat ini benar-benar penuh lawatan Tuhan. Sampai-sampai salah satu temanku yang juga kuliah Teologia nyeletuk; “mungkin kalo kamu kesini ada sesuatu yang akan kamu bawa. Seperti yang kalian lakukan di Indonesia seperti itulah yang kami butuh, kami kehilangan api kebangunan rohani”. Dia ngomong seperti ini setelah aku ceritakan apa saja yang kita di Indonesia lakukan dalam ministry anak muda. Jika di Indo kita kadang merasa selalu kurang ternyata sampai disini benar-benar rasanya haus sekali, rasanya biasa-biasa saja rasanya datar saja mungkin bisa dibilang kering. Namun disisi lain membuat mereka tidak bertengkar karena persepsi Teologia. Karena pendapat sesama pendeta yang berbeda lantas menjadi bahan kotbah berapi-api di atas mimbar untuk menunjukan siapa yang paling benar dan siapa yang di pakai Tuhan lebih sampai keluar kata-kata kasar dan tidak pantas di dengar. Hm… yah maafkan saya masih mengingat banyak kejadian seperti itu haha. Disini orang-orang lebih fokus membantu pengungsi dan imigran atau sederhana seperti tadi “mendoakan siapa saja yang mau didoakan”.  Wah.., kekeluargaan yang berbeda, karena semakin sedikit jumlah jemaat malah membuat erat satu sama lain. Inilah perbedaan yang aku dapati disini. Satu lagi, jika kamu dalam melayani melakukan kesalahan. Mereka akan langsung menegormu didepanmu saat itu juga. Aku sempat kaget lihatnya. Tapi ku pikir lagi, inilah profesionalisme mereka. Kalau melayani mereka akan menegurmu 4 mata. Bukan sindir menyindir. Yang pasti dengan cara yang baik dan setelah itu masalah selesai. Sesederhana itu mereka. Jika melayani mereka akan sangat profesional. Mulai dari disiplin waktu sampai cara melakukan tugas yang di berikan. Jemaat pun setelah ibadah menyusun kursi sendiri-sendiri *ini ga cuman di satu gereja. Apalagi jika bukan gedung sendiri. Jemaat juga bawa makanan dari rumah atau di beri jadwal bagi yang bersedia. Karena setelah ibadah pasti ada acara nge-teh bareng. Makanya itu aku sebut kekeluargaan yang berbeda tapi erat.

Dimana pun kita di tempatkan, entah melayani entah menjadi jemaat. Bersyukurlah ! terutama bagi teman-teman sepelayanan di Indonesia. Saat ini ladang di Indonesia sedang subur-suburnya. Meski terdengar kita minoritas, masalah yang kita alami membuat kita semakin kuat dengan Tuhan. Namun di belahan dunia lain ada negara yang nyaman dan maju namun memiliki musuh berbeda bukan orang kerasukan lagi bukan soal pergaulan bebas lagi, mereka terlalu berlogika sampai-sampai soal hamil di luar nikah atau pun percaya setan sudah kalah mengerikan dari yang mereka hadapi. Yaitu atheisme. Musuh mereka adalah diri mereka dan pikiran mereka sendiri. Kenyamanan hidup membuat mereka hampir-hampir tidak butuh Tuhan. Bukan berarti mereka kaya semuanya, ada yang miskin bahkan pengemis pun banyak, namun realitanya pengemis memiliki iman yang lebih kuat dari pada orang kaya. Negara yang termasuk miskin seperti kita ini masih butuh-butuhnya Tuhan, namun jika kita seperti mereka pun tidak menutup kemungkinan akan sama. Dahulu mereka yang datang dan menyebarkan injil namun sekarang generasi penerus mereka membuka gereja untuk menjadi tempat pariwisata saja. Kecantikan gedung tua penuh kisah perjuangan iman yang kini tinggal kenangan. “Saatnya orang Asia ke Eropa untuk membawa API yang dulu pernah di bawa nenek moyang mereka ke negri kita”. Ini ku kutip dari salah satu pernyataan PS.Philip Mantofa beberapa bulan lalu. Kutipan ini turut menguatkanku 🙂

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s