Aku bertanya aku menjawab

Gimana sih rasanya sudah lama ga gabung komunitas rohani?

Rasanya jauh, sendiri di padang savana(serius nih). Tapi ga seburuk itu kok. Disini tetap gabung komunitas meski kebiasaan dan tata cara ibadahnya berbeda.

Apa aja bedanya?

Bedanya itu, disini lebih sederhana. Ibarat bayi yang baru lahir makan bubur, tapi buat orang dewasa memang sangat tidak nyaman. Apalagi aku merasa level rohaniku sudah ‘dewasa’ ternyata aku salah paham !

Kok bisa? jadi kamu rasa dirimu pun belum dewasa rohani?

Ya, ternyata pengajaran dan kehidupan iman yang sangat sederhana disini, menyadarkanku kalau selama ini aku sudah salah paham akan diriku sendiri. Disini aku punya komunitas yang sangat luar biasa; pertama mereka sangat sabar, karena bahasa, budaya, cara berpikir dan kebiasaan hidup sehari-hari bisa dikatakan berbeda. Kedua mereka selalu siap membantu,  80% mereka adalah mahasiswa Teologia jika mereka selalu bersedia membantu yang ada dalam pikiran kita adalah ‘itu biasa atau itu kan wajib’ namun sisanya orang-orang sibuk yang berkuliah sambil bekerja namun selalu siap menawarkan bantuan. Bantuan mereka bukan sekedar bantu doa atau kasih semangat loh ya. Ada banyak hal yang mereka lakukan tanpa pandang bulu. Ketiga, sederhana. Mereka sangat sederhana juga perhatian seperti mengirim pesan dan menanyakan apakah kamu sudah sampai di rumah dengan selamat? lalu mereka akan berterima kasih untuk hari ini dan terakhir mereka akan menanyakan kesediaan kita untuk bertemu di lain hari. Jika sudah lama tidak saling memberi kabar mereka akan segera mengirim pesan atau telefon dan ga canggung bilang kangen, ayo bertemu !. Kehangatan dan kasih yang mereka bagikan sangat membuat ku terberkati. Seperti yang sudah aku tulis sebelumnya dalam setiap pertemuan kita tidak pernah membicarakan orang lain tidak pernah mau tahu urusan orang lain yang ada hanya membicarakan hal-hal seputar hidup masing-masing.

Mungkin karena mereka sedikit atau komunitasnya masih kecil?

Ada benarnya, tapi jumlah bukan alasan, gairah dan kemauan mereka mendekati jiwa itu sangat ku acungi jempol. Bayangkan yang datang ke komunitas ini bukan hanya yang beragama kristen, ada pengungsi dari Arab ada yang dari Nigeria ada yang dari negara Komunis. Macam-macam latar belakang. Terkadang jumlah pengurus kalah banyak dari yang datang. Tapi di usahakan satu meja pasti ada saja yang nyamperin dan ngajak ngobrol. Ga sampai disitu mereka akan ngajak jalan dan ketemuan di lain hari, entah duduk di taman atau masak-masak. Aku sangat kagum, bahkan dalam proses pengenalan ga ku dengar mereka terlalu membahas sesuatu yang rohani. Mereka berusaha perlahan-lahan membuat orang merasakan Tuhan lewat hidup mereka. Ga ada kata-kata yang mereka gunakan yang terlalu rohani, yang aku maksud seperti yang biasa kita pakai di Indonesia.

Gimana gaya mereka dalam sharing Firman?

Sekali lagi, Firman yang mereka bagikan sangat sederhana. Kehidupan sehari-hari, meski ada gereja Pentakosta tapi pembahasan dunia roh dan profetik memang hampir ga ku dengar. Bagus juga pikirku, ga ada yang ribet berselisih cuman karena alam roh, penglihatan, bahasa roh, suara Tuhan dll. Intinya ga ngeroh lah.

Hm, plus minus ya..

Iya, emang buat yang sudah terbiasa pelayanan roh pasti berasa mati kutu. Tapi disini imanku di sederhanakan. Belajar dari 0 lagi, belajar untuk sadar bahwa melebih-lebihkan sesuatu dalam kehidupan kerohanian pun tidak baik. Maksud ku, aku sadar selama aku di Indonesia, kehidupan bergereja sudah seperti perusahaan atau bahkan kerajaan. haha… ini ambigu memang. Tapi sudah banyak sekali orang-orang yang mempunyai cara pikir salah soal bergereja dan spiritualitas. Kita sudah sampai di tahap merasa mengerti Tuhan dan profetik tapi malah sebenarnya tidak tahu apa-apa. Membuat iman yang sederhana menjadi ruwet. Saling menuduh sesat saling menjatuhkan karena gosip saling mencerca karena menghakimi. Sebenarnya iman itu sederha saja.

Menurutmu bagaimana kehidupan komunitas orang percaya di Indonesia?

Menurutku, Indonesia saat ini sudah ada pada masa tuaian. Kehidupan rohani kita sangatlah jauh berbeda, sangat berapi-api. Disini mayoritas secara administrasi Kristen tapi gereja-gereja miskin anggota karena alasan pajak yang tinggi atau anak muda yang saking terbuka pikirannya jadi berkompromi dengan dunia. Seperti LGBT dan Sex bebas. Semuanya sah-sah saja asal tidak mengganggu kehidupan orang lain atau menyakiti orang lain. Norma dan Firman yang menjaga kita tetap ada dalam jalan yang benar. Itu yang membuatku sangat salut akan komunitas orang percaya di Indonesia. Kita punya event besar yang di baliknya selalu ada pengorbanan yang kadang kalau di pikir menyengsarakan diri sendiri. Ya kerja buat Tuhan ga ada yang sia-sia tapi terkadang Tuhan pun (menurutku) ga maksain kita untuk melakukan hal-hal yang ga perlu. Aku sering dengar dan baca di Alkitab gimana Yesus membangun komunitas yang sederhana namun erat. Jamuan makan malam atau hang out di bukit lalu sharing Firman. Sesederhana itu, tapi kita sering salah mengerti. Melakukan event besar lalu semua serba wah dan keren tapi setelahnya apa? bahkan jiwa pun belum tentu bertambah padahal goal kita agar surga di penuhi. Memenangkan jiwa kadang bukan lewat event besar yang wow karena menurutku event itu hanya celebrate. Jiwa harus di sentuh hatinya satu per satu itulah yang dinamakan pemuridan. Tidak mungkin guru tidak kenal murid tidak mungkin pelayan Tuhan bertahun-tahun dalam sebuah gereja ga kenal jemaat.

Tapi kan banyak banget orang gimana mau hafal?

Siapa bilang ga bisa? ga harus 1 orang dekati semua itulah di butuhkan Team. Tapi susah memang jika alasannya sibuk ga sempat blabla.. sebenernya alasannya adalah aku ga tertarik aku kan introvert aku ga bisa ngomong.. bukan juga, alasannya adalah aku ga perduli yang penting aku udah melayani udah doa wes cukup.

Ga kok perduli cuman ituloh..

ya ituloh selalu ada aja alasan kan? sebenarnya dari sebuah komunitas besar yang isinya PAW, Media Event dll intinya itu JIWA. Lah kalau yang sudah melayani abis jadi singer ngerasa cukup sudah sampai situ aja pelayanannya maka ga akan pernah bertambah jiwa-jiwa. Orang bakal merasa sebagai tamu terus menerus. Bukankah visi misi sebuah komunitas adalah hati yang haus akan jiwa-jiwa?

yah…. iya yah!

Tadi pagi aku bangun lalu dengerin kotbah dari Ps. Phillip untuk Kids. Entah kenapa Firman yang buat anak kecil malah terasa seperti Firman yang sudah langka banget aku denger bahkan seakan-akan baru pertama kali dengar. Mudah di cerna dan di mengerti tapi buat aku sulit dilakukan. Seperti kata Firman di Matius 18 1-5 tentang anak kecil. Baru ini aku pahami lebih lagi maksud Firman itu. Jaga lidah, jangan berbohong meski dusta putih jangan menyontek jangan berkata-kata kotor, harus sabar dan mendahulukan orang lain, karena Bapa di surga melihat semua yang kita lakukan. Jangan ikuti cara hidup yang salah dan satu lagi Iman tidak tergantung pada perasaan, jika merasa berbuat dosa harus cepat minta ampun jangan tunda-tunda apalagi kalau perasaan sedang tidak enak lalu tidak mau baca Alkitab. Itu salah karena hanya akan membuat kita semakin terhilang. Apapun perasaan kita hari itu Firman harus di baca karena itulah yang menjaga kita. 

Permasalahan apa saja yang kamu temui dalam kehidupan komunitas disini?

Aku sih belum masuk lebih dalam ya tapi karakter orang sini jauh dari kita. Mereka tipe orang-orang yang senang menyelesaikan masalah langsung di tempat agar tidak ada salah paham. Ugh! kalau mereka marah atau menegur cukup keras tapi memang sudah seperti itu. Jadi tidak ada yang tersinggung. Tidak ada juga yang berusaha keras mengorbankan perasaannya hanya agar orang ga tersinggung. Karena mereka akan bertanya langsung seperti kejadian waktu aku sedikit emosi karena temanku tidak mengatur jadwal perjalanan dengan baik dan membuat kita harus terlunta-lunta di kota orang selama beberapa jam. Aku diam lalu dia bertanya, apakah kamu ada sesuatu yang ga kamu suka? dia melanjutkan aku minta maaf karena aku masih belajar juga tapi semua akan baik-baik saja setelah ini kita akan pulang dengan selamat. Dua kebudayaan berbeda kenapa aku bilang budaya karena itu jua yang turut mempengaruhi karakter kita meski kamu introvert kek ambivert atau ekstrovert sama saja. Mereka mau kita tidak berlama-lama menyimpan masalah. Aku pun pernah melihat sendiri ketika temanku di gereja di tegur sama istri pendeta. WOW aku sempat kaget ku pikir kalau aku jadi dia bisa-bisa baper. Tapi katanya ga kok memang awalnya aku juga baper tapi lama-lama aku biasa. Setelah itu selesai sudah. Kalau kalian mau tahu kek gimana coba bayangin ini ya; mereka bakal datang lalu ajak ngomong trus kalo udah marah bisa nunjuk-nunjuk trus setiap kalimat itu penekannya warbiasah hehe. Pokoknya bisa baperlah. Karena mereka dari kecil kalo di marahin emaknya teriak-teriak marah-marah tapi dengan penjelasan bukan dengan tuduhan seperti kamu nakal kamu kurang ajar atau makian. Jadi setelah itu kita tahu salah kita apa. Oh ya ada lagi waktu itu aku bantuin ngantar kue. Karena mereka ga ada orang lagi yang bisa bantu, aku masuk ke dapur. Minggu depannya di bilangin kamu jangan masuk ke dapur lagi ya karena kamu ga piket. Langsung di tegur kek gitu padahal mereka sendiri yang butuh bantuan. Rada bingung aku waktu itu. Tapi toh selanjutnya mereka nawarin juga kok. Jadi maunya mereka itu profesional meski yah sedikit ambigu hehe. Jangan baper aja disini mental harus kuat  dan ingat harus blak-blakkan ngomongin isi hati jangan di simpen lalu malah di curhatin di belakang orangnya, yah itu namanya  pengecut (maapkan tapi bener kan?).

Oh jadi ga ada yang kasih kode kalo marah atau mau negur orang?

what kode? apa itu? apa? hahaha… ya ga lah, disini orang nelpon ke sekertariat kampus aja kalo ada yang ga beres kena marah di telefon atau apapunlah itu. Mereka tipe tukang marah langsung haha kalo kita kan santun ya kan sabar lembut tapi duri di belakangnya banyak hahah. Apalagi kode udah kek detektif aja, kan ga semua orang sepinter itu buat memecahkan kodemu. Jadi berusahalah memakai bahasa manusia awam untuk mengutarakan isi hati. Kalau maju mundur itu namanya diri sendiri salah tapi ga mau ngaku tapi teteup berusaha negur orang.  Masalah yang sebenarnya minor malah jadi mayor. Jadi berakar lalu berbuah jarak di antara sesama pengerja. Coba deh lihat aja, kalau ada orang yang hatinya ga beres sama kita perasaan bersalaha akan mereka bawa kemana saja tanpa mereka sadari ada jarak yang memisahkan dan membuat canggung. Iblis makai jarak ini untuk membisikkan kecurigaan dan pikiran negative jadilah perang dingin. Lebih lagi perang sama diri sendiri karena ga mau ngaku kalau hati ga beres tapi berusaha seterong dan merasa benar selalu.

Soal kepemimpinan, bisa ga sih pemimpin itu salah?

Ya iya dong, apa gunanya anggota team kalo gitu? Pemimpin harus nomor satu yang di sembelih dan di evaluasi. Kalau ada yang semacam partai oposisi atau kelompok kanan yah sudah. Toh mereka ada untuk mengevaluasi dan mengkritisi kinerja pemimpin kalau semua malah memuja kan bahaya juga. Pemimpin jadi gede kepala dan sombong tapi kalau ada oposisi kan seru! Bisa ada bahan doa juga haha. Maksud aku, sebenarnya jangan terbeban sama orang-orang yang terlihat membangkang. Contohnya aku, sudah dasarnya aku yang INTJ ini memberontak sama kepemimpinan yang menurut aku ga becus. Selain karena aku memang kek gini aku juga belajar dari kecil buat jadi pemimpin. Aku di bentuk dari kecil dari satu camp ke camp lain dari organisasi ke organisasi. Dari yang lembut sampai yang kasar setengah mati. Jadi kalau aku lihat pemimpin yang menurutku harus banyak belajar yah bukan berarti aku sombong dan sok (sedikit sih) tapi aku cuman mau bilang kalau jadi pemimpin itu ga instan. Jangan cengeng dan lemah ! lalu sedikit-sedikit nuduh orang jadi oposisi karena takut di lengserkan atau kelemahannya di umbar. Coba lihat pak de Jokowi yang terlihat biasa saja tapi mental kepemimpinannya wow. Mana ada dia ribet kek pak de yang sebelumnya, koar-koar minta bantuan rakyat karena merasa banyak yang mau lengserin dia. Mental pemimpin yang sesungguhnya itu tidak takut di gantikan jika memang merasa layak untuk di pertahankan (eaa). Pemimpin yang benar itu ga ribet ngajarin anggota teamnya untuk memiliki mental setia dan pemuja tapi bermental kritis dan saling membangun! Jangan takut kesalahan di umbar jangan takut disalahkan karena memang sudah takdirnya jadi pemimpin menanggung kesalahan yang bukan salahnya. Jadi jangan TAKUT ! aduh ribet deh. Kalau masih mau nurunin orang lain punya jabatan karena takut dia naik dan lengserin kamu atau hukum orang lain karena memberontak emangnya monarki ? cari tahu dulu berontaknya karena orang itu punya kepentingan pribadi atau emang anda yang memang kurang becus?.

Apa yang bikin kamu kuat jadi pemimpin?

Selain karena Tuhan yang pilih Tuhan yang mampukan. Aku tipe orang yang orientasinya sama goals dan ga taruh telinga sama orang lain yang ga penting bahasannya. Jadi selama aku mimpin aku tunjukan kinerjaku dan hasilnya maka orang yang ga setuju sama jalanku di awal akan bungkam karena mereka tahu ujungnya kemana, proyek selanjutnya mereka akan percaya juga kok. Aku ga mau capek denger orang manja dan ngeluh kalau di kasih kerjaan ini itu karena biasanya sebagian besar aku handle sendiri karena aku bisa kerja cepat tanpa dengar orang mengeluh. Itu adalah kelemahanku. Kalau aku rasa berharap sama orang lain bikin proyek tertunda dan ga jalan aku langsung turun tangan ngerjain sendiri. Tapi aku tetap kasih mereka bagian meski ga banyak, paling ga mereka ga akan merasa ga di butuhkan. (sadis ya) Tapi memang begitulah caraku memimpin tapi kalau aku ketemu orang yang bisa di andalkan jangan kaget aku bakal sangat percaya dan akan bergantung penuh. Sebenarnya itu tergantung individu sih. Bisa ga kerja cepat dan baik kalau ga siapa pun pemimpinnya ga akan mau mempercayakan kerjaan ya kan? KECUALI pengen ga kelar-kelar atau ga paham sama goals sendiri.

HM…

Yaya satu lagi aku itu sangat kritis sama orang lain tapi mereka ga tahu kalau aku terlebih lagi kritis pada diriku sendiri. Kalau aku melakukan kesalahan atau membuat orang sakit hati aku akan sangat down dan menghukum diri sendiri tapi orang lain tidak pernah tahu itu. Aku harus terus jadi pemimpin yang kelihatannya seperti robot tapi sebenarnya aku toh tetap manusia.

Penutup? ..

Dari aku cuman mau sampaikan… penutup. Kalau misal merasa ada anggota yang punya unek-unek datangi secara pribadi dari hati ke hati itu lebih bijak. Jangan pakai forum untuk menegur orang yang punya masalah pribadi sama kita sebagai pemimpin. Kalau ga mau di bongkar jeleknya di depan umum haha. Yah maksudku akan lebih baik kalau datangi secara pribadi. Pemimpin itu bukan penguasa tapi orang tua atau kakak untuk anggotanya, tidak tergantung umur tua atau muda pemimpin tetap harus selalu merasa tua hahaha. Lalu jangan berusaha pakai topeng untuk di puja dan memaksa diri jadi sempurna, itu akan membuat kita capek dan malah kehilangan identitas diri. Kalau salah itu biasa, kalau di salah pahami itu lebih biasa lagi. wkwkw

Yang pasti setelah menjadi pemimpin barulah aku sadari betapa rapuhnya mentalku betapa jeleknya karakterku. Kepemimpinanlah yang membuat aku berubah. Tapi bukan berarti jadi pemimpin tanpa belajar dan tahu apa-apa ya! Itu bingungin satu organisasi. paling tidak milikilah dasar kuat dan mental yang kuat untuk memimpin banyak orang dan juga  untuk jadi inspirasi mereka. Terakhir banget nih, pemimpin harus paham sistem dan kinerja organisasi. Kalau ada pemimpin artinya ada bawahan atau anggota ini bukan taman bermain tapi ORGANISASI jadi harus ada SISTEM untuk MENGATUR kalau GA PAHAM maka berantakan dan kacau balaulah sebuah oraganisasi jangan mengeluh dan salahkan anggota yang ga becus kerja apalagi ada overlapping dalam menjalankan tugas. Pemimpin itu bisanya membagi tanggung jawab bukan menyerahkan tanggung jawab. Pemimpin itu tugasnya mengawasi semua bukan menyerahkan tugas pengawas ke orang lain (dalam kasus lain pemimpin harus di awasi tapi itu contohnya negara ye kan, kalau kek komunitas cukup anggotanya sendiri yang mengawasi pemimpin).  Pemimpin itu bukan tuan yang nyuruh-nyuruh tapi contoh yang mengerjakan lebih dulu baru di ikuti anggota. Tolong banget pahami siapa itu pemimpin baru jadi pemimpin :). SEKIAN

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s